Posted by: wiwit prasetyono | June 16, 2011

7 Danau Terindah di Sumatera

Sebuah situs wisata global telah merilis 12 Danau Terindah di dunia versi mereka, berikut akan saya hadirkan 7 danau terindah di Sumatera yang saya kunjungi selama menempuh perjalanan Trans-Sumatera.

DANAU RANAU

OKU Selatan (21/1): Danau Ranau. Wiwitto-Trans Sumatera


Disebut-sebut sebagai Danau Terbesar kedua di Sumatera yang letaknya di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Selain terkenal dengan hasil ikannya yang melimpah, Pemda Lampung Barat dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan berlomba mengelola danau ini sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu resortnya yang terkenal bernama Lombok, milik Pemda Lampung Barat.

DANAU RAKIHAN

OKU Selatan (22/1) - Danau Rakihan. Wiwitto-Trans Sumatera


Tidak terlalu besar dan tidak banyak orang yang tahu tentang danau ini. Pun demikian danau alami ini sangat istimewa karena tidak ada sungai besar di sekitarnya yang mengalirkan airnya dengan deras. Walhasil gerak airnya sangat tenang dan warnanya sedikit pekat. Terletak di Kecamatan Sindang Danau, OKUS-Sumsel, yang merupakan tanah kelahiran politisi PPP, Ali Marwan Hanan (Mantan menteri Koperasi RI). Di lereng danau saat ini didirikan sebuah Pondok Pesantren, atas nama beliau, untuk menyemangati anak-anak di daerah terisolir untuk terus maju.

DANAU KERINCI

Sungai Penuh (4/2) Danau Kerinci. Wiwito-Trans Sumatera


Dibandingkan danau lain yang lebih menyerupai kuali, Danau Kerinci memiliki permukaan datar hampir rata dengan tanah di tepinya. Terdapat sawah membentang lebar di tepian danau yang konon merupakan pemasok beras utama di Provinsi Jambi. Mengunjungi danau di pagi hari, apabila beruntung, akan menjumpai gerombolan bangau putih yang terbang dan mencari makan di persawahan.

DANAU MANINJAU

Agam (9/2) DANAU MANINJAU - Wiwitto. Trans Sumatera


Satu dari sekian banyak danau menawan di Sumatera Barat. Untuk mencapainya, pengunjung bisa melewati jalan legendaris yang terkenal dengan nama “Kelok 44” (dibaca: Kelok Ampek Puluah Ampek). Banyak homestay menarik bagi wisatawan di Nagari Bayur yang menjadi setting novel best seller “Negeri Lima Menara”.

DANAU TOBA

Samosir (14/2) Danau Toba . Wiwitto-Trans Sumatera


Merupakan danau terbesar di Indonesia sekaligus di Asia Tenggara. Terbentuk karena letusan vulkanis Gunung Toba Purba yang konon menghancurkan kehidupan di Atlantis. Mengunjungi Danau Toba tidak lengkap tanpa singgah ke Pulau Samosir yang terletak di tengahnya. Banyak atraksi menarik terkait kebudayaan Batak, termasuk pengamen-pengamennya yang bersuara emas.

DANAU LAUT TAWAR

Takengon (16/2) - DANAU LAUT TAWAR. Wiwitto-Trans Sumatera


Letaknya di gugusan Dataran Tinggi Gayo yang terkenal sebagai penghasil kopi. Tidak heran hawa sejuknya menambah suasana tenang apabila berada di sana. Ada 3 buah titik kunjungan di pinggir-pinggir danau yang disediakan sebagai taman bermain dan pemandian air panas alami.

DANAU ANEUK LAOT

Sabang. Danau Aneuk Laot. Hack87-http://tinyurl.com/5rpgq9z


Lokasinya adalah di Pulau Weh, tempat yang dijadikan sebagai ujung paling utara Indonesia. Pengunjung langsung bisa menikmati danau itu selepas meninggalkan Pelabuhan Balohan menuju destinasi wisata menarik di Kota Sabang. Diantaranya adalah snorkling dan diving spot, goa, kuburan dan benteng peninggalan Jepang serta air terjun yang menawan.

Demikian, danau-danau terindah yang saya kunjungi selama perjalanan Trans-Sumatera. Tentu masih ada banyak danau cantik lainnya seperti Danau Singkarak, Danau di Ateh (Sumbar), Danau Sipin (Jambi), dan Danau Dendam (Bengkulu). Danau yang saya sebutkan terakhir belum sempat saya kunjungi. Bisa jadi, mungkin masih ada danau kecil lainnya yang tertutup hutan dan belum nampak oleh pandangan manusia. Indonesia memang luar biasa. Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan!

Posted by: wiwit prasetyono | June 14, 2011

Kota Buddha Kuno di Muaro Jambi

Muaro Jambi (13/2) - STUPA BATA. Bentuk bangunan khas Buddha di Muaro Jambi ini tidak berbeda dengan kebanyakan stupa lainnya, meskipun terbuat dari batu bata. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Salah satu alasan saya nekat melakukan perjalanan Trans-Sumatera adalah Candi Muaro Jambi. Suatu hari saya melihat cover harian nasional yang menampilkan gambar candi kuno berbahan batu bata. Kabarnya, Indonesia sedang berusaha untuk menjadikannya warisan dunia baru yang diakui UNESCO. Lebih dahsyat lagi adalah, penjelasan seorang kawan di Jambi yang menyatakan bahwa kompleks Percandian Muaro Jambi jauuuh lebih besar dari Borobudur!

Keterangan tersebut ibarat api yang menyulut hasrat saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Borobudur bagi saya merupakan sebuah karya maha dasyat. Meskipun saya sudah berulang kali mengunjunginya, pun tetap menghadirkan kekaguman baru setiap menginjakkan kaki di candi warisan abad ke-8 tersebut. Sepuluh tingkatnya menghadirkan ukiran relief dari kitab suci Buddha yang apabila dibentangkan dapat mencapai 3 km panjangnya. Belum lagi benteng alamnya, Borobudur dikelilingi oleh 6 gunung di sekitarnya. Yang tak kalah menarik, konon konsep borobudur adalah lotus on the lake. Dimana candi berbentuk dasar persegi tersebut ibarat bunga teratai yang mengapung di atas danau purba. Yaa, memang konon katanya ada seluasan perairan mengelilingi kompleks candi. Nah, sekarang bayangkan perasaan saya mendengar orang berbicara bahwa ada karya lain melebihi besarnya Borobudur?

Perjalanan dari Palembang ke Jambi saya tempuh selama lebih dari 12 jam. Berangkat siang hari pukul 13.00, travel Innova yang saya tumpangi tiba di tujuan pada dini hari. Saya tidak sadar ketika mobil telah sampai pada penginapan yang sudah dipesankan oleh kawan. Jalanan kota nampak berkabut. Warna putihnya jelas terlihat pada sekitar jam 2 pagi. Dingin, basah dan sepi! Hadir sekelebat dalam imajimasi saya suasana mistis Sumatera. Rasanya seperti memasuki daerah pedalaman hutan tropis yang apabila ditelusuri makin jauh, semakin asing, semakin takut tetapi juga semakin penasaran.

Dugaan saya tidak meleset, berbeda dengan ibukota provinsi lain di Pulau Sumatera yang umumnya merupakan kota pesisir, suasana Kota Jambi cenderung tenang khas daerah pedalaman. Bagusnya, rimbun pepohonan menghiasi pinggir-pinggir jalan protokol yang membuat suasana teduh dan sedikit lembab. Tidak ada kemacetan, tidak ada gedung-gedung tinggi ataupun mall-mall yang bertaburan di dekat pusat pemerintahan. Satu-satunya kemacetan yang saya temukan hanyalah di depan rumah dinas Gubernur yang merupakan kawasan niaga. Ada pasar tradisional yang tumpah ke jalan, juga sebuah kompleks pertokoan besar dalam satu garis lurus. Di ujung keramaian adalah sebuah simpang yang mengantarkan saya melihat Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera.

Tujuan utama saya adalah Candi Muaro. Berbekal informasi dari Museum, perlu menempuh sekitar 20 km dari simpang yang menurut penduduk sekitar disebut sebagai Ancolnya Jambi. Daerah pinggir Batanghari yang dijadikan sebagai pusat rekreasi.

Saya berjalan sedikit ngebut. Bukan karena harus menempuh 20 km, tetapi karena jalanan menuju Candi Muaro juga sangat sepi. Setelah menyeberang jembatan Batanghari II, pemandangan di kanan dan kiri jalan adalah rawa-rawa. Juga diselingi bentang-bentang luas lahan yang nampaknya dibuka untuk perkebunan. Masih nampak sisa-sisa tonggak kayu yang dibakar, di sela-sela tanaman inti. Sesekali, saya memacu kendaraan cepat-cepat bahkan takut melihat kanan-kiri. Belum lagi kalau saya harus menembus kanopi hutan yang melengkung membentuk terowongan hijau. Itu semua saya lalui, sendirian saja!

Pukul 3 sore setelah perjalanan bermotor selama hampir 1 jam, saya menemukan barisan rumah yang berderet membentuk suatu perkampungan. Lepas satu kampung dibatasi sedikit semak belukar kemudian ada perkampungan lainnya. Setelah beberapa kali melewati kampung demi kampung akhirnya saya melihat gapura besar bertuliskan “Candi Muaro Jambi”.

Muaro Jambi (13/2) - CANDI TINGGI. Satu dari sekian banyak candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi yang sudah direkonstruksi hingga utuh. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari jalan utama saya langsung bisa melihat sebuah bangunan candi di tengah-tengah lapangan hijau luas. Bentuk bangunannya persegi lurus setinggi kurang lebih 10 meter. Bagian bawah bangunan tersebut terdapat ornamen bersusun-susun. Sementara bagian mukanya terdapat hiasan ukir terbuat dari batu andesit. Bila diperhatikan, bangunan utama dikelilingi pagar dari batu bata kuno yang sangat luas. Tidak hanya satu, bahkan nampaknya pagar tersusun berlapis-lapis. Konon katanya diatas bangunan utama ini kemungkinan terdapat bangunan lain yang terbuat dari bahan kayu yang telah hilang entah kemana. Ibaratnya, yang saya ceritakan ini adalah kastil kuno dengan pembagian-pembagian ruangan yang menunjukkan fungsi-fungsi tertentu. Orang sekitar menyebutnya sebagai Candi Gumpung.

Muaro Jambi (13/6) - MENAPO. Runtuhan candi ini awalnya berupa gundukan tanah yang tertutup dedaunan. Beberapa diantaranya menyimpan prasasti, patung serta perhiasan emas.Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari bangunan pertama ini, saya diajak oleh pemandu menuju candi lain. Tidak main-main, saking jauhnya kami harus naik motor menuju lokasi candi kedua. Sepanjang jalan, saya dijelaskan bahwa ada beberapa gundukan yang apabila dibersihkan dari sulur dedaunan akan muncul bagunan candi yang utuh. Orang sekitar menyebut gundukan itu “Menapo”. Pada awalnya diketahui hanya ada 7 menapo utama, namun setelah dilakukan foto udara bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di tahun 1985 diketahui ada 40 lebih menapo yang tersebar dalam kawasan seluas 7 kilometer persegi. Tidak menutup kemungkinan ada menapo lain yang belum teridentifikasi.

Bukan hanya candi, di kompleks yang setiap sore atau hari libur rame oleh anak-anak kecil dan remaja itu menghadirkan pula kolam kuno yang disebut sebagai Telago Rajo. Fungsinya kurang lebih sebagai tempat pemandian di masa lampau. Letaknya agak tinggi dan disekitarnya masih terlihat jelas pagar-pagar batu bata yang kemungkinan merupakan tanggul pembatas satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Muaro Jambi (13/6) - SETELAH DIPUGAR. Menapo yang telah berhasil direkonstruksi menjadi candi yang sangat indah. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Hadirnya tanggul ini menurut beberapa ahli diperkirakan untuk menahan banjir ke dalam kompleks bangunan. Berdasarkan berita-berita China atau catatan perjalanan masa lampau dikenal sebuah pelabuhan penting di pesisir timur Sumatera bernama Zabag. Kemungkinan besar itu adalah daerah yang saat ini dikenal sebagai Muara Sabak. Menurut perkiraan, orang-orang di masa lampau menuju kota melalui muara Sungai Batanghari. Perahu-perahu mereka masuk ke kota untuk melakukan perdagangan.

Keseluruhan cerita di atas membukakan mata saya tentang betapa besarnya Kompleks Percandian Muaro Jambi. Tidak hanya besar dalam hal ukuran candi yang berhasil direkonstruksi, namun lebih dari itu situs tersebut menghadirkan kompleks yang dulunya bisa jadi merupakan istana. Atau lebih dari itu, bisa jadi merupakan kompleks kota kuno.

Yang lebih menggetarkan bagi saya adalah tentang runtuhnya sebuah peradaban. Kita tidak pernah tahu bahwa kota yang dulunya ramai telah hancur dan berubah menjadi sunyi. Sementara itu di kota yang sekarang kita tinggali bisa jadi sebelumnya adalah sebuah belantara. Belajar dari perubahan, dalam perjalanan tersebut saya menghirup semangat kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Sesuatu yang hari ini bukan siapa-siapa bisa jadi akan menjadi sangat bermakna di masa yang akan datang. Seperti Batanghari, saya percaya hidup akan terus mengalir.

Muaro Jambi (13/2) - SENJA DI BATANGHARI. Mengalir dari Solok-Sumatera Barat dan bermuara di Jambi sepanjang lebih dari 800 km, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Posted by: wiwit prasetyono | April 3, 2011

Kemewahan Tak Terbeli di Tepian Sungai Musi

Palembang (1/2)- MY HEART WILL STAY ON! Jembatan Ampera di atas Sungai Musi menghubungkan Palembang bagian Ulu dan Ilir. Pengunjung yang kebanyakan adalah muda-mudi tidak pernah sepi memadati lokasi sekitar jembatan yang bersinar di malam hari. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Setelah Bengkulu, perjalanan Trans-Sumatera saya berlanjut ke Palembang. Kota terbesar kedua di Sumatera ini terkenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Tentunya ini berdasarkan asumsi yang disebabkan oleh banyaknya prasasti yang ditemukan di sekitar Sungai Musi. Kurang lebih isinya menyebutkan bahwa dahulu terdapat kerajaan besar beragama Buddha berbahasa Melayu. Sahih, dalam beberapa sumber sejarah – termasuk Prasasti Kedukan Bukit- menuliskan nama kerajaan sebagai Crivijaya. Lazim kemudian disebut sebagai Sriwijaya.

Memang benar hingga saat ini para ahli masih berdebat tentang letak pasti Kerajaan Sriwijaya.  Tepatnya adalah menelusuri ulang dimana letak Ibu Kota/Istana Sriwijaya Kuno. Walaupun banyak peninggalan sejarah ditemukan di sekitar Sungai Musi, akan tetapi tersebut di dalamnya beberapa kata yang merujuk suatu lokasi seperti Zabag yang identik dengan daerah Muara Sabak di Jambi serta Minanga yang identik dengan daerah Binanga di Sumatera Utara. Selain itu, situs Buddha kuno juga ditemukan di sekitar Muaro Jambi serta Dharmasraya- Sumatera Barat. Didukung oleh catatan pedagang dari Arab bernama Sulayman, Anthony Reid dalam Anthology of the Travelers menyimpulkan bahwa kemungkinan Sriwijaya merupakan kerajaan yang mengendalikan pelabuhan-pelabuhan besar di Selat Malaka dan Laut China Selatan pada abad ke 7-13 M.

Palembang (1/2) -GUCI EMAS DARI KAYU. Kesenian lacquer sangat populer di Sumatera Selatan mulai dari dulu hingga sekarang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Saya sendiri memulai eksplorasi di Kota Palembang dengan mengunjungi pusat kerajinan kayu lacquer (dibaca: laker) yang terletak di sekitar Masjid Raya. Awalnya saya semangat, termasuk mungkin tergoda untuk membeli, tetapi sejurus kemudian saya tetapkan hati untuk tidak berbelanja souvenir. Alasan pertama karena benda-bendanya tergolong besar. Ada diantaranya almari khas Palembang, cermin, meja-kursi, guci, tempat sirih hingga pelaminan. Jelas! Saat ini saya belum membutuhkannya. Alasan yang kedua, tak lain dan tak bukan karena uang di kantong memang luar biasa tipis. Maklum backpacker, prioritas utama adalah dana transportasi dan makan. Urusan oleh-oleh cukuplah dari gambar hasil jepretan kamera. Toh gambar yang akan berbicara ribuan harga!

Nah, tentang kerajinan laker itu sendiri ternyata memang bukan asli berasal dari Indonesia. Teknik pelapisan benda berlukis atau berornamen khusus itu sangat mirip dengan cara pewarnaan keramik. Bisa jadi asal muasal kesenian tersebut dari China, tempat Embah-nya keramik. Satu yang pasti corak ragam hias Palembang memang khas, beda dengan daerah lainnya. Warga Sumsel sangat bangga menyebut kerajinan tersebut khas dengan budaya Palembang yang kaya warna-warna keemasan.

Terkait warna-warna emas, sejak lama Palembang dikenal sebagai penghasil kain songket berkualitas tinggi. Songket adalah kain yang ragam hiasnya dihasilkan dari proses tenun. Oleh karena itu, pewarnaan ditentukan oleh warna benang asal bahan baku kain. Yang khas dari Songket Palembang adalah dominannya unsur benang berwarna perak dan keemasan. Walhasil, songket Palembang akan terlihat lebih mewah dibandingkan jenis-jenis kain tenun lainnya.

Di Indonesia, kain tenun tidak satu-satunya ditemukan di Palembang. Ada banyak daerah di Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara bahkan hingga ke Papua yang memproduksi kain jenis itu. Pun tak terkecuali negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei yang juga memiliki jenis kerajinan tenun khususnya songket. Akan tetapi, Bangsa Indonesia tidak perlu berkecil hati melihat hasil budayanya juga berkembang di negeri seberang. Bagi saya, teknik pembuatan dan motif boleh mirip tetapi nilai yang terkandung di dalamnya mana mungkin bisa sama. Leluhur kita menciptakan motif-motif kain itu tidak sembarangan. Ada diantaranya punya arti khusus dan dikenakan dalam acara khusus pula. Orang bisa meniru barang, tapi tidak berlaku dengan nilai dan aturan pemakaiannya. Kalau memang nekat, pasti ketahuan! Masak sih demi eksistensi sebuah kain akan menciptakan tradisi baru termasuk mungkin merekonstruksi sejarahnya. Haduuuh niat banget, kalau memang demikian.

Palembang (1/2) - SONGKET TRADISIONAL PALEMBANG. Kain tenun khas Palembang ini sering disebut sebagai rajanya kain karena banyak menggunakan benang perak atau emas. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Selain melihat kerajinan, saya juga memuaskan diri dengan mencoba makanan khas Palembang yang sudah terkenal seantero Indonesia: empek-empek! Makanan berbahan dasar ikan itu sudah masuk ke mall-mall hampir diseluruh Indonesia, bahkan juga luar negeri. Hanya saja, menikmati empek-empek kapal selam, lenggang, lenjer, adaan, kulit, keriting dan varian lainnya di tempat asal makanan tersebut adalah sebuah kemewahan!

Selain rasa, kemewahan lain dari makanan Palembang terletak pada kandungan gizinya. Ada banyak lagi turunan dari empek-empek yang juga berbahan dasar ikan. Olahan ikan yang kemudian diberi kuah dapat menjadi Model, Tekwan atau Burgo. Selain itu, ikan juga bisa dimasak langsung tanpa diolah dengan tepung atau sagu terlebih dahulu. Dengan bumbu rempah, termasuk irisan nanas, daun kemangi dan seledri orang Palembang menyebut masakannya sebagai pindang ikan. Jangan ditanya, selain lezat khasiatnya mampu memulihkan tenaga yang sudah kedodoran! Sumpah, it’s soooo energizing…

Malam terakhir di Palembang saya habiskan di pinggiran Sungai Musi. Saat itu adalah hari ke-14 perjalanan Trans-Sumatera saya sejak 19 Januari 2011. Bergelas-gelas kopi kami habiskan menemani obrolan ringan hingga berat. Awalnya kami saling melontarkan pertanyaan standar untuk saling mengenal lebih dalam. Lambat laun, obrolan berputar secara otomatis membahas politik negeri ini. Dari politik, pembicaraan berbelok menuju  kopi luwak. Terus menerus, pembicaraan mengalir lagi menuju topik olah raga, pendidikan hingga pengalaman, mimpi dan banyak lagi topik lainnya.

Diskusi tersebut tanpa dikomando. Seolah sadar untuk terus menghidupkan cerita, satu sama lain saling mengisi manakala suasana terasa sepi. Waktu sudah melewati pergantian hari, tapi pembicaraan kami belum mau stop. Ada saja hal-hal menarik yang diperbincangkan. Tanpa terasa, sesekali bulu roma merinding takjub dan dada terasa lapang mendengar cerita-cerita hebat namun juga terkadang pilu dan penuh harap. Yaa, berharap akan hari depan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kami sendiri, bahkan kalau bisa untuk keluarga, kawan dan juga bangsa dan negara tercinta. Melihat esensinya, diskusi santai dan mencerdaskan seperti itu pun saya kira juga merupakan sebuah kemewahan. Dengan caranya sendiri, tanpa sadar Musi telah menghadirkan kemewahan dalam berbagai arti.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories