About this


Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu, Itulah Indonesia

Indonesia tanah airku aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia

Saya mengawali tulisan dalam blog ini dengan lagu nasional yang tentu tidak asing bagi sebagian besar orang Indonesia. Lagu tersebut tiba-tiba muncul pada saat saya dan beberapa orang kawan merayakan malam tahun baru 2011. Awalnya kami mendiskusikan tentang rencana setahun ke depan.

Pada akhirnya, saya yang memang meniatkan untuk bisa jalan-jalan keliling Indonesia disemangati untuk menuliskan cerita tentang perjalanan saya oleh kawan-kawan tadi. Sekonyong-konyong, saya menyebutkan bait-bait lagu di atas. Rasa-rasanya syair lagu tersebut telah melekat di kepala saya sejak lama. Malah jujur saya tidak ingat kapan tepatnya saya menghafal lagu tersebut.

Di balik sekedar menghafal lagunya, ternyata meresapi makna syairnya bernuansa kebangsaan yang tinggi. Jaman kuliah dulu ini disebut: nation building!  Bahwa teritorial atau wilayah negara Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Mewarisi peninggalan politik jaman kolonial, anak bangsa ini kemudian mengikatkan diri bahwa dari Sabang sampai Merauke adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Pikiran saya kemudian terhenyak, diam dan merenung setelah melafalkan syair lagu di atas. Ooh betapa luas Sabang sampai Merauke dimaksud! Selain luas, koneksi antar kotanya pun sulit direngkuh. Maklum dari kota paling timur hingga ujung barat tersebut melintasi sebaran pulau berjumlah lebih dari 17.000. Belum lagi biayanya. Perjalanan ke Papua hampir sama harganya untuk pergi ke Eropa. Dari Jogja menuju Singapore pun kadang-kadang lebih murah dari pada Yogyakarta-Jakarta. Celaka, bisa-bisa orang Indonesia tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi sesungguhnya saudara-saudaranya.

Dan kemudian dengan semangat untuk tidak hanya sekedar mengabadikan perjalanan saya, blog ini saya lahirkan. Guru saya bilang, “Saya juga kepengin lihat negeri sendiri, tapi apa tidak sedih kalau melihatnya salah urus?”. Maka dari pernyataan itu saya tahbiskan nama jabang blog ini menjadi “Melihat Negeri Sendiri”. Melihat negeri sendiri tidak hanya sekedar mencatat keindahan panorama alam, tetapi juga mengumpulkan kejujuran tentang segenap peristiwa. Manis, pahit, susah ataupun senangnya hidup di negeri sendiri tentu tidak akan pernah terlupakan.

Sebagian bilang, die before Paris. Tapi saya justru berfikir, die before Sabang-Merauke!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: