Posted by: wiwit prasetyono | December 15, 2011

Surga-Surga Yang Hilang

Bukit Lawang (13/2) - PINTU MASUK. Jalan Menuju Area Konservasi Orang Utan di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara penuh dengan penginapan cantik dengan suasana sejuk dan tenang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Kalau ada tempat di sepanjang Sumatera yang ingin kembali saya datangi dan tinggal lebih lama, salah satunya adalah Bukit Lawang! Menghabiskan waktu sambil bersantai dan membaca buku adalah salah satu pilihan terbaik. Bagi yang gemar minum kopi, secangkir serbuk arabica asal Mandailing terasa pas untuk menghangatkan badan. Suasana makin dramatis mana kala kabut tipis perlahan-lahan turun menyapu tebing yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Diantara rimbun pepohonan, menyembul satu dua air terjun yang cahayanya berpendar warna pelangi setelah beradu cahaya matahari. Bila bisa dibayangkan mata, mungkin ini gambaran surga. Hehehe lebay!

Begitulah, saya sudah jatuh cinta sejak mengunjungi destinasi pertama di Sumatera Utara. Awalnya hanya kepingin menyaksikan area konservasi orang utan. Eee, bonusnya justru luar biasa. Sungai Bukit Lawang dan panorama sekitarnya. Agak mengejutkan karena saya menjadi satu diantara tiga orang saja pengunjung lokal yang ikut paket Orang Utan Feeding. Selebihnya justru belasan bule dari berbagai negara di dunia.

Bukit Lawang (13/2) - RIVER TUBING! Selain bersantai ada berbagai pilihan aktivitas bisa dilakukan di area rekreasi Bukit Lawang seperti tracking, orang utan feeding, rafting dan juga river tubing. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Orang Utan merupakan binatang endemik di kawasan hutan hujan tropis Asia. Lokasi persisnya adalah di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Khusus di Sumatera, jumlahnya saat ini hanya kurang dari 7500 ekor. Jumlahnya terus menurun seiring dengan menurunnya habitat asli binatang primata besar tersebut. Saya baru tahu, selama mengikuti kegiatan ini, bahwa habitat alami orang utan yang sesungguhnya adalah di atas pohon. Istilahnya binatang arboreal. Sehingga meskipun memiliki kedekatan genetik sebesar 96,4 % dengan manusia, toh orang utan tidak betah menyentuh tanah. Orang utan butuh bergelayut dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. Kasian betul bagi orang utan yang selama ini saya lihat di kebun binatang. Kondisinya memprihatinkan. Selain dikandang, banyak pula yang dipaksa mentah-mentah berjalan di daratan.

Alasan di atas cukup kuat untuk mendorong saya mengunjungi langsung lokasi konservasi orang utan di Taman Nasional Gunung Leuser. Kesempatan langka! Sudah sampai di lokasinya, kenapa idak sekalian berkunjung langsung. Berbekal informasi sana-sini, saya melesat 4 jam meninggalkan Medan menuju Langkat-Sumatera Utara. Aksesnya mudah. Dari Terminal Pinang Baris hanya satu kali bus menuju Bukit Lawang. Selanjutnya ganti becak motor selama kurang lebih 10 menit menuju loket utama.

Sepanjang perjalanan menuju Langkat, saya tertegun dengan perkebunan kelapa sawit yang luar biasa lebat. Tidak berlebihan, berjam-jam perjalanan rasanya hanya menyusuri lorong sawit tak berujung. Satu dua kali terdapat pabrik-pabrik pengepulan/pengolahan biji sawit di sisi jalan. Sementara itu, para penumpang umumnya akan berhenti di sebuah gang sempit diantara rimbun hijau palm oil trees yang sesungguhnya adalah akses menuju perumahan keluarga petani-petani sawit yang letaknya masuk di tengah hutan.

Langkat (13/2) - SAWIT TAK BERUJUNG. Sepanjang jalan menuju Bukit Lawang penuh dengan perkebunan kelapa sawit milik BUMN dan Perusahaan Asing. Wiwito-Melihat Negeri Sendiri


Menurut cerita, banyak petani sawit yang notabene adalah transmigran. Dahulu mereka mendapat 2 hektare tanah untuk masing-masing digunakan sebagai area pemukiman dan pertanian. Tanamannya macam-macam termasuk karet yang dulunya adalah primadona perkebunan. Sekarang, primadona perkebunan berganti sawit. Ramai-ramai mereka beralih tanaman.

Berikutnya, lahan-lahan juga mulai dialihfungsikan oleh perusahaan-perusahaan penguasa hak pengelolaan hutan (HPH). Sebagian dari perusahaan besar itu bergabung dengan perusahaan asing. Selanjutnya, mereka menjadi raja-raja minyak [sawit] dari Medan yang menguasai berjuta-juta hektar lahan. Bagi petani lokal atau transmigran, lahan 2 hektare berarti saaaaaangat-sangat mikro. Begitulah realita…

Nun di Bukit Lawang. Setelah mendapatkan tiket di loket utama dan berjalan menyeberangi sungai menuju pos jagawana, para peserta orang utan feeding akan di-briefing dengan serangkaian informasi terkait orang utan. Pengunjung tidak boleh memberi makan langsung orang utan, hanya pawang yang diperbolehkan demikian. Juga penting untuk memperhatikan jarak. Pengunjung harus menjaga diri sekitar 7 meter agar tidak terlalu dekat dengannya. Orang utan pada dasarnya hewan yang pemalu. Takut dengan orang asing, takut pula dengan suara-suara bising. Oleh karena itu selama pengunjung menyaksikan orang utan meraih buah-buahan dari jagawana, semua wajib menjaga suara. Hanya bisikan saja terdengar dari satu pengunjung dengan lainnya.

Sayangnya, ditengah keheningan yang selalu dijaga oleh petugas dan pengunjung, terdengar suara menderu-deru tanpa henti dari sisi lain Sungai Bukit Lawang. Sisi kanan sungai merupakan area Taman Nasional, sementara sisi kirinya adalah kawasan eksploitasi. Kawasan yang bisa dimanfaatkan untuk pemukiman atau perkebunan. Tidak mengherankan, semakin tinggi mendaki bukit Taman Nasional semakin jelas terdengar suara deru gergaji mesin dari arah yang bersebarangan. Benar-benar “berseberangan” dalam artian ide maupun lokasinya.

Hilang atau punahnya orang utan sudah diramalkan oleh beberapa pihak. Seniscaya hilangnya hutan-hutan yang sudah dialihfungsikan. Sekedar mengambil perumpamaannya sesungguhnya banyak sudah hal-hal besar telah hilang dari Sumatera Utara. Dalam arti kebudayaan, pada masa lalu sangat dikenal adanya Kerajaan Barus, Langkat dan juga Deli. Saat ini, sebagian meninggalkan jejak sejarah berupa bangunan atau artefak-artefak kerajaan lainnya tapi sebagian besar lainnya telah musnah. Hanya nama yang dikenal, seperti halnya “kapur barus” yang sudah sangat mendunia.

Bukit Lawang (13/2) - GENERASI MASA DEPAN. Anak-anak Bukit Lawang besar bersama alam. Melihat Negeri Sendiri - Wiwitto

Surga-surga yang hilang. Demikian saya menandai kesan saya terhadap Sumatera Utara. Melihat masa lalu, ada peradaban dan kerajaan besar yang surut oleh tepi jaman. Sementara di masa depan, hutan dan seisinya mulai terancam. Alam dan seisinya, tempat manusia dan makhluk lainnya berbagi kehidupan, seharusnyalah dibagi untuk masa depan.

Advertisements

Responses

  1. bukan kebetulan jika posting Mas Witto kali ini berbarengan/dekat dengan kasus pembantain di Kabupaten Mesuji, Lampung. Witto cerita ttg sawit di situ, dan keindahan alam lainnya. Ketika kita lalai menjaganya, dan kebijakan negara yang tidak punya arah, tanah zamrud ini pelan-pelan akan terpecah belah dan hilang perlahan!

  2. mas, i think i fall in love wit ur blog.
    so inspiring..
    judulnya bikin mrinding..
    tulis lagi mas, aku subcribe jd pembaca setia deh :))


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: