Posted by: wiwit prasetyono | September 12, 2011

Serba Serbi Sumbar

“Temans sy sudah di Padang! Sekarang di Masjid Kota Nurul Iman. Kondisinya retak di sana-sini, tapi aneh, rasanya batin sejuuuk sekali. Betah saya berlama-lama disini.”

Di atas adalah kutipan SMS yang saya kirim ke beberapa kawan sesaat setelah saya pergi melihat-lihat Kota Padang. Dua hari sudah saya di Sumatera Barat namun baru kali ini punya kesempatan menjelajah kota dengan angkot warna merah dari Daerah Belimbing (dibaca: Balimbiang!) menuju Pasar Raya.

Saya berhenti di JL. Mohammad Yamin kemudian berjalan kaki melihat gedung-gedung pemerintahan atau pelayanan publik yang rusak akibat gempa 30 September 2009. Melepas lelah, saya berhenti di Masjid Kota yang saya ceritakan pada sms di atas.

Padang Panjang (8/2) - ANGKOT WARNA WARNI. Di Kota Padang dan sekitarnya, trayek angkutan kota dibedakan berdasarkan warna cat yang menempel pada armada kendaraan umum.

Di Kota Padang adzan isyak berkumandang pukul 20.30. Artinya, pukul 9 malam orang-orang baru keluar dari masjid. Lhaah, kalau di daerah saya jam segitu pacaran sudah bubar! Kurang tahu deh kalau di Padang, jam berapa biasanya anak gadis diantarkan pulang sama pacarnya? Hehe. Untungnya, angkot di Padang bisa diandalkan hingga jam 11 malam. Lajur trayeknya juga menjangkau banyak lokasi. Bisa dibilang Sumbar memiliki sistim transportasi publik perkotaan paling baik di seantero Sumatera!

Dengan naik angkot, pada hari berikutnya saya berkunjung ke Pantai Air Manis yang terkenal karena legenda Malin Kundang. Tidak banyak yang bisa saya komentari karena toh batu kutukan itu dibangun dengan “Semen Padang”. Entah bagaimana dulunya. Selain ke Pantai Air Manis, angkot yang berpusat di Pasar Raya itu bahkan menjangkau Teluk Bayur yang lokasinya perlu empat puluh lima menit perjalanan dari kota. Dengan angkot pula saya bisa mampir ke Museum Adityawarman dan Pantai Taplau (tepi laut).

Selain angkot, moda transportasi yang populer hampir di semua wilayah Sumatera saat ini adalah travel “Innova”, “Avanza” atau “APV”. Yaa, ini semacam kendaraan ber-plat hitam yang dijadikan mobil sewaan untuk perjalanan antar daerah. Dan, yang paling legendaris tentu saja: kereta api! Masih ingat saya setting cerita “Sengsara Membawa Nikmat” yang mengambil lokasi perjalanan kereta. Di Padang, saya niatkan juga menjajal kereta komuter Padang-Padang Pariaman yang bentuknya mirip Prameks Jogja-Solo. Sayang, tidak ada banyak waktu bagi saya menjajal Kereta Mak Itam dari Padang Panjang menuju Danau Singkarak.

***

Bukittinggi (8/2) - JAM GADANG. Menara yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1926, merupakan salah satu icon kota-kota di Indonesia

Ada 2 inspirasi saya di Sumatera Barat! Pertama adalah berita seorang kawan tentang indahnya Kota Bukittinggi. Katanya, tak lengkap menyusuri Sumatera barat tanpa mampir ke bekas Ibu Kota RI pada Desember 1948 – Juni 1949 itu. Yang kedua, inspirasinya datang dari Novel populer “Negeri Lima Menara”. Jadilah perjalanan saya kali ini merupakan gabungan antara lost in Bukittinggi dan napak tilas novel pertama A.Fuadi.

Selain khusus kepingin melihat “Jam Gadang”, lokasi lain yang ingin saya lihat di Bukittinggi adalah Rumah tempat kelahiran Bung Hatta. Pun demikian, berbekal artikel karya Rafless dalam Anthology of Traveller-Antony Rheid saya mampir ke tempat yang disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan Melayu tempo dulu. Kota tersebut adalah Pageruyong, atau yang kini sering disebut sebagai Pagaruyung. Lokasi persisnya berada di Kota Batu Sangkar, Kab. Tanah Datar. Meninggalkan sebuah bangunan berbentuk rumah gadang megah yang konon dikenal sebagai Istana Pagaruyung. Seolah menjalani nasib yang sama seperti Ibu Kota kerajaan itu sendiri yang pernah terbakar di masa lalu kemudian berpindah-pindah, Istana Pagaruyung sekarang dalam tahap renovasi karena terbakar habis di tahun 2007.

Ternyata benar, berkunjung ke Sumbar belum lengkap tanpa menengok Bukittinggi. Kota bersejarah ini letaknya di apit oleh Gunung Merapi dan Singgalang yang tentu saja menghadirkan hawa sejuk menyegarkan. Pantas, Belanda menjadikannya mulai dari lokasi tetirah hingga membangun Benteng yang di beri nama Fort de Kock. Saat ini, puing benteng memang sudah tidak jelas terlihat. Yang ada justru menyerupai taman yang terhubung oleh jembatan gantung dengan area kebun binatang di lokasi yang berlawanan. Luar biasa! Dari jembatan tersebut kita bisa melihat kota Bukittinggi yang konturnya bergunung-gunung.

Antara benteng, kebun binatang dan jam gadang, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dari jam gadang menuju rumah Bung Hatta juga demikian. Kita hanya perlu melewati “Tangga Empat Puluh” di Pasar Ateh menuju jalan raya. Bagi yang menyukai kuliner, hukumnya wajib menjajal “nasi kapau” di pasar Ateh. Nasi kapau pada dasarnya mirip dengan nasi padang. Hanya saja varian lauk serta sayurnya lebih beragam. Satu porsi nasi kapau dihidangkan bersama sayur kobis, keripik singkong, serundeng-daging, irisan telur dadar, dan siraman kuah gulai yang berlinang-linang menggiurkan. Sebagian orang tidak lupa menambahkan “sambal ladomudo” atau sambal hijau yang, sumpah, bagi saya yang tidak suka pedas ini ikut tergiur mencicipinya. Gerrrrghhh, nikmaaaat!

Bukitinggi (9/2) - NASI KAPAU. Varian Nasi Padang yang dimasak oleh orang-orang yang berasal dari daerah Kapau, dekat Bukittinggi

Keterangan tentang Nasi Kapau itu lebih lengkap ditemukan dalam novel Negeri Lima Menara. Kenikmatannya semakin terasa tatkala tokoh utamanya menerima kiriman rendang kapau penuh kasih dari Ibunda tercinta. Makan rendang bersama kawan senasib seperjuangan semakin mengharu biru karena memori rindu kampung halaman digenapi dengan indahnya kebersamaan dan persahabatan. Dalam situasi ini cerita novel tersebut menghadirkan sejuta imagi yang digambarkan oleh alam pikiran serta menggerakkan hati dengan dorongan kuat yang bernama inspirasi.

Bagitu juga saya. Saya terinspirasi melihat Nagari Bayur di Pinggir danau yang merupakan setting awal Negeri Lima Menara. Tentu saja, termasuk menjajal “Kelok Ampek Puluah Ampek” dari Terminal Simpang Aur di Bukittinggi menuju Lubuk Basung. Jalanan menurun yang ibarat menuruni periuk perbukitan, berkelok sejumlah 44 kali tikungan. Jangan bayangkan putarannya maka Anda akan pusing. Nikmati saja keindahan panoramanya maka akan membuat perjalanan makin berkesan.

Berbicara tentang karya sastra, rasa hormat setinggi-tingginya saya persembahkan bagi Sumatera Barat. Karya-karya Sumatera Barat hadir dari sastra tempo doeloe seperti “Siti Nurbaya”, “Sengsara Mambawa Nikmat”, “Di Bawah Lindungan Kabah”, “Robohnya Surau Kami” dan masih banyak lagi. Di jaman sekarang, lahir novel populer “Negeri Lima Menara”. Apapun jenisnya, semua hadir menggambarkan Sumbar dari masa ke masa. Tanpa sadar, perubahan sosial masyarakatnya terekam apik melalui indahnya tulisan. Dalam konteks sejarah, semua yang tertulis akan abadi; yang terucap hanya akan berhembus bersama tiupan angin. Scripta manent verba volant!

Advertisements

Responses

  1. interesting yet critical story told in easy-to-grasp post Mas 🙂

    • The visit itself was very short yet very-very much memorable! Thanks Ru, I might not be in Bukittinggi if that time you didn’t offer me place to stay, hehe 🙂

  2. Padang salah satu kota tujuan impianku tuh mas wito.. thanks for sharing! 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: