Posted by: wiwit prasetyono | April 3, 2011

Kemewahan Tak Terbeli di Tepian Sungai Musi

Palembang (1/2)- MY HEART WILL STAY ON! Jembatan Ampera di atas Sungai Musi menghubungkan Palembang bagian Ulu dan Ilir. Pengunjung yang kebanyakan adalah muda-mudi tidak pernah sepi memadati lokasi sekitar jembatan yang bersinar di malam hari. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Setelah Bengkulu, perjalanan Trans-Sumatera saya berlanjut ke Palembang. Kota terbesar kedua di Sumatera ini terkenal dengan sebutan Bumi Sriwijaya. Tentunya ini berdasarkan asumsi yang disebabkan oleh banyaknya prasasti yang ditemukan di sekitar Sungai Musi. Kurang lebih isinya menyebutkan bahwa dahulu terdapat kerajaan besar beragama Buddha berbahasa Melayu. Sahih, dalam beberapa sumber sejarah – termasuk Prasasti Kedukan Bukit- menuliskan nama kerajaan sebagai Crivijaya. Lazim kemudian disebut sebagai Sriwijaya.

Memang benar hingga saat ini para ahli masih berdebat tentang letak pasti Kerajaan Sriwijaya.  Tepatnya adalah menelusuri ulang dimana letak Ibu Kota/Istana Sriwijaya Kuno. Walaupun banyak peninggalan sejarah ditemukan di sekitar Sungai Musi, akan tetapi tersebut di dalamnya beberapa kata yang merujuk suatu lokasi seperti Zabag yang identik dengan daerah Muara Sabak di Jambi serta Minanga yang identik dengan daerah Binanga di Sumatera Utara. Selain itu, situs Buddha kuno juga ditemukan di sekitar Muaro Jambi serta Dharmasraya- Sumatera Barat. Didukung oleh catatan pedagang dari Arab bernama Sulayman, Anthony Reid dalam Anthology of the Travelers menyimpulkan bahwa kemungkinan Sriwijaya merupakan kerajaan yang mengendalikan pelabuhan-pelabuhan besar di Selat Malaka dan Laut China Selatan pada abad ke 7-13 M.

Palembang (1/2) -GUCI EMAS DARI KAYU. Kesenian lacquer sangat populer di Sumatera Selatan mulai dari dulu hingga sekarang. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Saya sendiri memulai eksplorasi di Kota Palembang dengan mengunjungi pusat kerajinan kayu lacquer (dibaca: laker) yang terletak di sekitar Masjid Raya. Awalnya saya semangat, termasuk mungkin tergoda untuk membeli, tetapi sejurus kemudian saya tetapkan hati untuk tidak berbelanja souvenir. Alasan pertama karena benda-bendanya tergolong besar. Ada diantaranya almari khas Palembang, cermin, meja-kursi, guci, tempat sirih hingga pelaminan. Jelas! Saat ini saya belum membutuhkannya. Alasan yang kedua, tak lain dan tak bukan karena uang di kantong memang luar biasa tipis. Maklum backpacker, prioritas utama adalah dana transportasi dan makan. Urusan oleh-oleh cukuplah dari gambar hasil jepretan kamera. Toh gambar yang akan berbicara ribuan harga!

Nah, tentang kerajinan laker itu sendiri ternyata memang bukan asli berasal dari Indonesia. Teknik pelapisan benda berlukis atau berornamen khusus itu sangat mirip dengan cara pewarnaan keramik. Bisa jadi asal muasal kesenian tersebut dari China, tempat Embah-nya keramik. Satu yang pasti corak ragam hias Palembang memang khas, beda dengan daerah lainnya. Warga Sumsel sangat bangga menyebut kerajinan tersebut khas dengan budaya Palembang yang kaya warna-warna keemasan.

Terkait warna-warna emas, sejak lama Palembang dikenal sebagai penghasil kain songket berkualitas tinggi. Songket adalah kain yang ragam hiasnya dihasilkan dari proses tenun. Oleh karena itu, pewarnaan ditentukan oleh warna benang asal bahan baku kain. Yang khas dari Songket Palembang adalah dominannya unsur benang berwarna perak dan keemasan. Walhasil, songket Palembang akan terlihat lebih mewah dibandingkan jenis-jenis kain tenun lainnya.

Di Indonesia, kain tenun tidak satu-satunya ditemukan di Palembang. Ada banyak daerah di Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara bahkan hingga ke Papua yang memproduksi kain jenis itu. Pun tak terkecuali negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei yang juga memiliki jenis kerajinan tenun khususnya songket. Akan tetapi, Bangsa Indonesia tidak perlu berkecil hati melihat hasil budayanya juga berkembang di negeri seberang. Bagi saya, teknik pembuatan dan motif boleh mirip tetapi nilai yang terkandung di dalamnya mana mungkin bisa sama. Leluhur kita menciptakan motif-motif kain itu tidak sembarangan. Ada diantaranya punya arti khusus dan dikenakan dalam acara khusus pula. Orang bisa meniru barang, tapi tidak berlaku dengan nilai dan aturan pemakaiannya. Kalau memang nekat, pasti ketahuan! Masak sih demi eksistensi sebuah kain akan menciptakan tradisi baru termasuk mungkin merekonstruksi sejarahnya. Haduuuh niat banget, kalau memang demikian.

Palembang (1/2) - SONGKET TRADISIONAL PALEMBANG. Kain tenun khas Palembang ini sering disebut sebagai rajanya kain karena banyak menggunakan benang perak atau emas. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Selain melihat kerajinan, saya juga memuaskan diri dengan mencoba makanan khas Palembang yang sudah terkenal seantero Indonesia: empek-empek! Makanan berbahan dasar ikan itu sudah masuk ke mall-mall hampir diseluruh Indonesia, bahkan juga luar negeri. Hanya saja, menikmati empek-empek kapal selam, lenggang, lenjer, adaan, kulit, keriting dan varian lainnya di tempat asal makanan tersebut adalah sebuah kemewahan!

Selain rasa, kemewahan lain dari makanan Palembang terletak pada kandungan gizinya. Ada banyak lagi turunan dari empek-empek yang juga berbahan dasar ikan. Olahan ikan yang kemudian diberi kuah dapat menjadi Model, Tekwan atau Burgo. Selain itu, ikan juga bisa dimasak langsung tanpa diolah dengan tepung atau sagu terlebih dahulu. Dengan bumbu rempah, termasuk irisan nanas, daun kemangi dan seledri orang Palembang menyebut masakannya sebagai pindang ikan. Jangan ditanya, selain lezat khasiatnya mampu memulihkan tenaga yang sudah kedodoran! Sumpah, it’s soooo energizing…

Malam terakhir di Palembang saya habiskan di pinggiran Sungai Musi. Saat itu adalah hari ke-14 perjalanan Trans-Sumatera saya sejak 19 Januari 2011. Bergelas-gelas kopi kami habiskan menemani obrolan ringan hingga berat. Awalnya kami saling melontarkan pertanyaan standar untuk saling mengenal lebih dalam. Lambat laun, obrolan berputar secara otomatis membahas politik negeri ini. Dari politik, pembicaraan berbelok menuju  kopi luwak. Terus menerus, pembicaraan mengalir lagi menuju topik olah raga, pendidikan hingga pengalaman, mimpi dan banyak lagi topik lainnya.

Diskusi tersebut tanpa dikomando. Seolah sadar untuk terus menghidupkan cerita, satu sama lain saling mengisi manakala suasana terasa sepi. Waktu sudah melewati pergantian hari, tapi pembicaraan kami belum mau stop. Ada saja hal-hal menarik yang diperbincangkan. Tanpa terasa, sesekali bulu roma merinding takjub dan dada terasa lapang mendengar cerita-cerita hebat namun juga terkadang pilu dan penuh harap. Yaa, berharap akan hari depan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kami sendiri, bahkan kalau bisa untuk keluarga, kawan dan juga bangsa dan negara tercinta. Melihat esensinya, diskusi santai dan mencerdaskan seperti itu pun saya kira juga merupakan sebuah kemewahan. Dengan caranya sendiri, tanpa sadar Musi telah menghadirkan kemewahan dalam berbagai arti.

Advertisements

Responses

  1. aku senang dg jembatan ampera, bukan karena keagungan amperanya sendiri, tp justru krn ruang terbuka di sekitar ampera itu, yg kadang dijadikan tempat kumpul masyarakat atau tempat kota terseut punya gawe, dari bazar sampai konser…isn’t that cool to have an event in riverside? mungkin ini bisa jadi awal pemanfaatan sungai untuk pelayaran dan wisata, seperti halnya singapura atau negeri2 lainnya 🙂

  2. aduh itu songketnya.. ngiler! 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: