Posted by: wiwit prasetyono | March 7, 2011

Membelah Bukit Barisan Menuju Pesisir Barat

Seminggu di desa sebenarnya membuat saya betah, tidak mau beranjak. Udara dingin mulai terbiasa di kulit. Aroma vegetasi telah menjadi sajian sehari-hari, dan bahasa orang sekitar lamat-lamat mulai saya pahami. “Galak kabah Wit mikut Mamak ke hutan? Masih ada kijang, behuk, babi hutan. Tempatnye tinggi bisa lihat Danau Ranau sampai pantai Bengkulu dari atas Bukit.” Kurang lebih artinya, mau Wit ikut Paman ke hutan? Di sana masih ada kijang, beruk, babi hutan. Tempatnya tinggi dan bisa melihat Danau Ranau bahkan sampai pesisir Bengkulu.

Mamak adalah sebutan untuk Paman dari garis keturunan Ibu, sementara dari keturunan ayah dipanggil Pang Cik. Sekilas bahasa suku Semende ini mirip dengan Bahasa Melayu orang Malaysia dengan akhiran kata “e”. Mamak saya ini tubuhnya ramping, tinggi tetapi liat. Garis mukanya runcing, dengan mata sipit khas Melayu. Selain bertani kopi Mamak rajin keluar masuk hutan untuk mengurus dan membeli kulit kayu manis. Tak heran beliau tahu banyak situasi hutan bahkan rute jalanan menuju Bengkulu.

Pada akhirnya saya memang mengubah rute Trans Sumatera. Awalnya dari Muara Dua saya akan bergerak menuju Palembang baru kemudian Bengkulu dan Jambi, tapi kalau dilihat di peta saya harus membelah Bukit Barisan dua kali. Bergerak dari timur ke barat (Palembang-Bengkulu) dan selanjutnya kembali lagi ke timur (Bengkulu-Jambi). Berfikir efisiensi saya melanjutkan perjalanan dari Pulau Beringin menuju Bintuhan-Manna dan akhirnya Bengkulu. Tiga kota terakhir ada di pesisir-pesisir Provinsi Bengkulu.

Tidak berlebihan saya menyebut perjalanan ini membelah bukit barisan. Di dalam peta terlihat bahwa Danau Ranau masuk dalam zona berwarna kuning dengan ketinggian di atas 2000 m di atas permukaan laut. Kecamatan Pulau Beringin – tempat tinggal saya sekarang- juga masuk zona kuning, sementara tujuan kami adalah ke pesisir Bengkulu. Itu artinya kami akan melintas daerah Bukit Barisan Selatan. Pegunungan yang membentang dari Aceh hingga ke Lampung. Bertaburan gunung-gunung api dan dihiasi danau-danau tektonik di beberapa daerah.

Perjalanan kami tidak mudah. Beberapa kilo di awal jalanan masih beraspal, lama-lama hanya tingal kerikil berserakan. Lebih jauh lagi kerikil menipis diganti bebatuan besar bercampur tanah sebagai pondasi. Konon katanya yang meletakkan adalah buruh pribumi untuk kepentingan tanam paksa. Semakin jauh melaju jalanan makin ekstrim. Sekarang yang kami lewati adalah tanah lempung licin disiram hujan gunung tipis-tipis.

Saya naik motor diantar Mamak dan keluarga. Pun demikian orang-orang umumnya akan naik ojeg dari Pulau Beringin menuju Bintuhan. Jalur yang kami lalui tidak bisa dibilang jalan setapak, meskipun kondisinya lebih mengerikan daripada segaris jalan menuju kebun kopi sekalipun. Di kanan kiri jalan terdapat bekas roda mobil pick up pengangkut minyak tanah, sementara kami tinggal melanjutkan jejak roda sepeda motor yang telah dibuat pelintas jalan sebelum kami. Saking seringnya dilewati, lintasan motor itu tepat membentuk sebuah garis lurus sebesar ban roda yang dalam menggerus jalanan. Motor kami masuk gerigi 1 dan harus dibantu dorongan kaki pengemudi yang sudah bersarung sepatu bot. Dalam situasi selama hampir 8 kilo meter penumpang harus turun, berjalan pelan-pelan di atas tanah lempung berwarna kuning kemerahan.

Empat jam kami harus berjibaku menusuk-nusuk bukit Barisan. Jalanan yang kami lalui naik turun kebun kopi sambil sesekali dihibur suara siamang atau simpay yang melenguh-lenguh memantul dari bukit ke bukit. Tanah yang kami lewati berubah-rubah warna. Mulai dari pekat hitam menjadi kuning, merah (benar-benar merah) hingga hijau atau biru, putih mirip pualam. Sesekali ada suara kendaraan bermotor muncul dari balik semak. Segera setelah melaju mereka menjadi kawan kami satu rombongan yang bersama-sama mengiris-iris jalan. Dalam hati saya membatin, “Kok masih ada yaa penduduk yang tinggal di tempat seperti ini? Terus kalau misal sakit dan butuh berobat, atau kalau ada ibu hamil mau melahirkan misalnya, apa juga harus melewati satu-satunya jalan terjal seperti ini?”

Kami sampai di pesisir Bintuhan tengah hari. Setelah beristirahat sebentar, saya sendiri naik bus  melanjutkan perjalanan menuju kota yang lebih besar di Bengkulu, Manna. Dari Manna saya baru bisa bergerak ke kota Bengkulu. Ongkos bus Krui Indah tujuan Manna adalah Rp 30.000,00 sementara Travel Avanza tujuan Bengkulu seharga Rp 50.000,00. Tepat pukul 8 malam tanggal 29 Januari saya tiba di kota Bengkulu.

Tugu Tabot

Seperti halnya Lampung yang mempunyai maskot Siger, maskot Kota Bengkulu adalah Tabot. Tugu tabot yang cantik itu tersebar di beberapa sudut kota. Tabot juga menjelma menjadi kesenian daerah dan festival kesenian. Selain itu banyak juga souvenir kecil-kecil bernuansa tabot. Sebuah bentuk yang terinspirasi dari keranda mayat!

Yaa betul, keranda mayat! Riwayatnya tabot ini dibawa oleh orang-orang India Muslim yang didatangkan oleh Inggris ketika mereka menguasai Bengkulu. Orang-orang India tersebut kebanyakan beraliran syiah yang mengadakan peringatan atas meninggalnya Husein, cucu Nabi Muhammad. Pasca terbunuhnya Husein, orang-orang mengumpulkan potongan jenazahnya yang tercerai berai. Setelah terkumpul mereka memakamkan dengan terlebih dahulu mengarak keranda keliling kota. Begitulah, perwujudan keranda mayat Husein itu yang disebut tabot di Bengkulu. Di Bengkulu festival Tabot akan sangat meriah dengan arak-arakan dan pergelaran kesenian serta doa bersama. Tradisi ini telah diadaptasi dan menjadi tradisi lokal yang penuh nuansa tradisional.

Tiga hari dua malam saya menginap di dekat Pantai Panjang Bengkulu. Saya beruntung mendapat penginapan seharga Rp 80.000,00 dengan AC dan kamar mandi dalam. Tempatnya bersih dan juga tersedia sarapan for free. Lokasi penginapan tersebut dekat dengan Makam Inggris yang tidak mengerikan. Setiap sore, anak-anak muda bermain bola di sela-sela nisan dan patung besar-besar dengan arah melintang-lintang sedikit tak beraturan.

Apa yang saya lakukan di Bengkulu adalah pertama-tama ke museum provinsi. Ini wajib saya lakukan di setiap kota. Tidak hanya sekedar mengikuti program pemerintah untuk Visit Museum Year, tetapi juga saya percaya di sana saya akan mendapat informasi akurat tentang kondisi kota, transportasi dan destinasi wisata di suatu daerah dari sumber terpercaya.

Setelah Museum saya bergerak menuju rumah pengasingan Bung Karno, rumah Ibu Fatmawati dan Danau Dendam. Lokasinya mudah dijangkau dari kota. Seperti halnya museum negeri yang lain, biaya masuk tempat-tempat bersejarah itu hanya Rp 2.000,00 atau pada umumnya tidak lebih dari Rp 5.000,00.  Sore hari saya mengunjungi Benteng Marlborough, Kampung China dan Pantai Panjang.

Tugu Peringatan kematian Thomas Parr

Secara keseluruhan Kota Bengkulu adalah kota yang nyaman. Tidak terlalu besar tetapi semua fasilitas tersedia. Tidak pula terlalu padat kendaraan bermotor. Yang lebih mengesankan, banyak tinggalan kolonial Inggris (bukan Belanda) yang masih terawat apik.  Bengkulu yang juga disebut Bencoolen menarik hati Kolonial Inggris pada tahun 1685-1825. Setelah kalah bersaing dengan VOC di Jawa, pangkalan baru IEC jatuh ke Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu yang berarti pesisir barat. Penguasa-penguasa Inggris kemudian bekerjasama dengan penguasa lokal, membangun benteng dan juga perkotaan. Termasuk juga Thomas Stamford Raffles, pernah menghabiskan waktu bersama istrinya di pesisir tersebut. Hingga akhirnya berdasarkan Traktat London, Inggris harus menyerahkan Bengkulu kepada Belanda untuk ditukar dengan Singapore. Selanjutnya Raflles meninggalkan pesisir barat dan mengembangkan daerah Tumasik atau Singapura. Konon katanya, alasan kenapa Inggris rela melepas Bengkulu adalah karena malaria dan gempa.

Jangan sekali kali melupakan sejarah. Jargon terkenal dari sang proklamator itu rasanya tepat disandangkan dengan kenangan akan Bengkulu. Sejarah telah meninggalkan jejak perjuangan sang proklamator hingga bertemu dengan sang penjahit bendera pusaka. Sejarah juga meninggalkan jejak berupa jalan koneksi antar propinsi yang dibangun pada masa tanam paksa. Selain tata kotanya, di Bengkulu terdapat tugu peringatan akan kematian Thomas Parr. Residen Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu secara beramai-ramai karena kekejamannya. Demikian, sejarah telah meninggalkan bukti fisik berikut pelajaran berharga untuk kehidupan saat ini. Tanpa mengambil manfaatnya untuk masa depan sejarah hanyalah romantisme, di satu sisi, tanpa mengenang sejarah maka sulit untuk bisa mencintai negeri sendiri.

Advertisements

Responses

  1. Mas Wiwiiiit,
    Huwaa antara senang bercampur bangga membaca tulisan mas wiwit soal kampung halamanku. Apalagi ternyata dalam penilaian mas wiwit peninggalan sejarah yang ada di sana dikatakan terawat dengan baik. Meskipun dari penduduk Bengkulu-nya sendiri masih merasa perhatian pemerintah untuk itu belum cukup. Anyway, iri juga sama mas wiwit yang sudah sempat menyusuri bukit barisan dengan kondisi jalan yang sangat ekstrem itu. Aku sendiri bahkan belum pernah. Hehe… Btw, dalam rangka apa nih mas kunjungannya ke Bengkulu?

    • Hi Karin, makasih dah mampir blogku 😉
      Iyaa dibanding benteng-benteng lain di Indonesia [yang pernah aku kunjungi tentunya] Benteng Marlborough termasuk yang paling terawat. Ada lho di daerah lain yang justru di cat warna-warni! Sayang banget kan jadi keliatan cheezy…

      Hehehe, aku keliling rute Trans Sumatera. Alasannya, silahkan lihat di blog postingan pertama :))

  2. ^^ envy.
    What a great experience mas Wiwit. Sebagai orang Bengkulu, aku malah tdk banyak mengeksplor ‘kampungku’ sendiri 😦 what a shame…
    Thanks for sharing..hope you have a great time there.
    *jadi kangen kampung halaman*

  3. gambar orang naik motornya kayak dejavu

    :p

  4. hummm…..
    kapan ya q bisa menikmati yang kayak di atas…????

  5. Hi Wit, wah asik ya lewat hutan dan kebun kebun, saya juga beberapa kali travelling ke Hutan di Bengkulu, mampir ya di blog saya hindar-blog.blogspot.com.
    Waktu saya ke Jerman ada teman saya yang kembali dari Swiss memberitahukan bahwa dia dapat buku jurnal perjalanan Raffles dari Bintuhan ke Bengkulu, banyak tulisannya yang tertinggal di Villanya, masalahnya waktu penulis jurnal tsb mencari villa Raffles tidak ada yang tahu, cuma patokannya adalah villa tersebut berada dekat makam anaknya yang meninggal karena malaria.

  6. Mas wiwit mauu nanyaaa, ǟƘŮ˚ kan skrg kerja di muaradua, pengen aja sesekali ke bengkulu. ЌäĽ☺ mw dr palembang terlalu jauh yakk, Nahhh dari pulau beringin itu emang ga ada angkot atau travel Ɣª mas ke manna? Musti naik ojek n jalannya se terjal itu??

    • Angkot atau ojek gak ada Mbak! Ojek pun itu sifatnya minta tolong orang, bukan trayek resmi. Hmm sepertinya bisa ke Manna dengan jalur bus yang bagus kalau lewat Danau Ranau-Krui…

      • kl naek ojek minta tolong orang brp ongkos ny mas ?? trus dr krui k manna brp jam ??
        mhon bntuanny ya mas

      • Saya diojekin sama Saudara Mas! Hmm, kurang tahu yaa berapa ongkos kalau “minta tolong” orang. Dari Krui ke Manna sekitar 4 jam waktu itu

  7. Assalamualaikum, saya tertarik dengan penamaan “Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu” dalam tulisan diatas, dimanakah atau dalam catatan mana tercantum tulisan Bang Kulon? mungkin mas wiwit bisa memberikan referensi atas nama tersebut.. terima kasih, salam kenal dari saya..

  8. mas wit seru ceritanya…aku juga orang muaradua kerja dibengkulu,,kalo pulang rencana mau coba jalan pulauberingin..tapi masih ragu. biasanya saya naik kendaraan dari liwa…like this lah pengalamannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: