Posted by: wiwit prasetyono | February 9, 2011

Kota Pertama: Bus VIP, Siger dan Kopi Luwak Lampung

Perjalanan saya dimulai pada tanggal 19 Januari 2011. Tepat pukul 16.00 sore, bus melaju dari Jogja menuju Sumatera. Terbayang sudah perjalanan berjam-jam nanti akan membuat pinggang pegal, pantat biru dan leher kaku. Maklum, perjalan di Jawa bisa ditempuh dengan berbagai pilihan moda transportasi. Menggunakan pesawat atau kereta eksekutif, seperti yang sering saya lakukan, akan jauh lebih nyaman ketimbang perjalanan dengan bus. Akan tetapi dalam perjalanan kali ini saya niatkan untuk say no to airplane! Setidaknya dalam jalur koneksi antar provinsi.

Melaju dari jalanan kota Jogja bus yang saya tumpangi melesat menembus Jalan Wates dan rute berikutnya di jalur selatan Pulau Jawa. Ternyata, dalam perjalanan, bus akan berhenti di tempat makan pada saat jam-jam makan. Penumpang bisa meluruskan kaki, buang air, sholat, makan atau sekedar menghirup udara segar. Di luar perkiraan saya, perjalanan darat menggunakan bus VIP itu tak kalah nyaman. Ruang di dalam bus ber-AC, toilet juga disediakan bagi yang ingin buang air kecil, penumpang diberi selimut dan ruangan di dalamnya terasa lebar. Gak sempit, bahkan kaki bisa selonjor hampir-hampir lurus. Satu lagi, kursi bisa diatur sesuai kemiringannya (reclining seat) sehingga punggung nyaman dalam perjalanan.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya. Saya pernah menggunakan bus jarak jauh untuk pergi ke Bali, Jakarta atau Bandung. Salah satunya pada saat darmawisata bersama kawan SMA. Waktu itu kami harus menahan hasratΒ  ingin pipis (baca:h.i.p/h.i.v untuk hasrat ingin vivis) di dalam bus. Kami harus menanti untuk buang air di pom bensin saat bus berhenti, karena di dalam bus tidak ada toilet. Saat jam makan, suplay makanan juga minim dan harus berebutan dengan kawan. Kendaraan memang ber-AC tapi kalau dinyalakan terlalu lama akan bocor. Mirip-mirip genteng bocor saat hujan. Air akan menetes setitik demi setitik di atas kepala penumpang. Belum lagi kalau ada yang mabuk darat. Amit-amit! Baunya bisa bikin kita ikut mabuk. Grrrraaaah, kesimpulannya waktu itu, bepergian dengan bus itu nggak enak. Yaa tidak enak, lebih tepatnya adalah bepergian dengan bus AC ekonomi.

Kembali kepada perjalanan trans Sumatera, pagi sekitar pukul 08.00, bus yang kami tumpangi sudah siap menyeberangi selat sunda dengan jasa kapal feri. Di dalam lambung kapal beberapa bus, truk sarat muatan serta puluhan mobil pribadi sudah mengisi sebagian ruangan. Para penumpangnya ada yang memilih tetap tinggal di dalam kendaraan atau berhamburan ke atas galangan mencari udara segar di lautan. Kemudian, kurang lebih selama 3 jam, kapal siap merapat di Pelabuhan Bakauheni-Lampung.

What’s in Lampung?

Begitu menginjakkan kaki pertama kali di daratan Lampung, atau dari kejauhan ketika masih di atas kapal, pandangan orang pasti tidak bisa beralih dari bangunan berwarna kuning keemasan yang berkilat-kilat dari kejauhan. Yaa, orang sana menyebutnya Menara Siger. Yang menarik, apabila kita memasuki wilayah perkotaan maka lambang yang dinamakan Siger itu akan bertaburan dimana-mana. Mulai dari bunderan hingga nangkring di atas toko-toko atau bangunan penting.

sumber: ronarentacar.blogspot.com

my-lampung.blogspot.com

Dari sumber yang saya dapatkan* siger merupakan perlambang aturan hidup bagi warga Lampung. Masing-masing berisi prinsip atau falsafah bagi mereka dalam menjalani kehidupan. Dari sumber yang lain, siger yang awalnya merupakan mahkota bagi pengantin wanita membuktikan bahwa warga Lampung menempatkan wanita di tempat yang utama.

Terkait dengan Lampung, saya merasa sudah sangat familiar dengan kota ini.Β  Ambil sebuah contoh, di area pertokoan, hampir setiap radius 100 m orang dapat menemukan gerai minimarket waralaba. Ada dua brand besar yang di Jawa seolah-olah bersaing memperoleh pasar di radius seperti disebut sebelumnya. Yang kedua mengenai bahasa, sebagian besar orang Lampung yang saya jumpai di perkotaan hampir seluruhnya berbahasa Indonesia. Yang muda-muda menggunakan sebutan “lu”, “gua” ala ABG Jakarta, sedangkan yang sebagian lagi justru berbahasa Jawa. Saya tidak bohong. Hampir di setiap tempat umum, kalaupun tidak berbahasa Jawa setidaknya mengerti apa maksud pembicaraan dengan bahasa ibu saya itu.

Puas mengitari kota, gedung-gedung pemerintahan, tempat nongkrong anak mudaΒ  serta Museum Negeri Lampung selama seharian, saya memutuskan bergerak ke Liwa-Lampung Barat. Awalnya saya hanya kembali ke buku induk saya-ATLAS. Saya melihat ada danau besar di antara Sumatera Selatan dan Lampung. Maka dengan ilmu asal tunjuk saya meminta bantuan kawan untuk dapat singgah ke Danau Ranau.

Kemudian, perjalanan ke Danau Ranau ini saya tempuh dengan travel di malam hari. Ongkosnya hanya 60 ribu rupiah, siap mengantar penumpang ke daerah yang dulu pernah terjadi gempa besar pada tanggal 14 Februari 1994. Karena perjalanan ke Liwa membutuhkan waktu 6 jam, maka saya sampai di sana pada pukul 2 dini hari. Bersyukur saya mendapat tumpangan di rumah temannya teman. Kelak kawan baru ini justru menjadi informan penting pendukung perjalanan trans Sumatera saya.

Kopi Luwak van Lampung

Di Liwa saya tidak punya tujuan. Yang nyangkut di kepala waktu itu hanya Danau Ranau. Selain itu, sesuai rencana, dari Liwa saya akan meneruskan perjalanan ke Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan-Sumsel. Tidak beruntungnya rute Liwa-OKU Selatan hanya dilewati 1 bus umum yang melintas di sekitar Danau Ranau pada pukul 09.00 pagi. Itu pun belum tentu setiap hari bus akan datang. Oleh karenanya pikiran saya fokus untuk melihat Danau Ranau. Hasil jepretan kamera pocket saya di Danau Ranau itu yang kemudian saya jadikan background halaman blog ini.

Suatu hari ketika berada di OKU Selatan saya menemukan artikel menarik tentang kopi luwak. Rupa-rupanya saya pernah membaca halaman cetaknya pada Kompas terbitan awal Desember 2010. Artikel itu menceritakan tentang, kurang lebih, sejarah singkat kopi luwak. Yang mana pada awalnya kopi luwak ini adalah penghiburan bagi buruh tanam paksa yang tidak boleh menikmati kopi yang ia tanam sendiri. Mereka hanya mengais-ngais kopi dari kotoran luwak/musang karena kopi yang ditanamnya langsung dikelola oleh VOC.

Dunia berubah, kopi sampah itu sekarang melejit namanya. Konon kopi luwak dijadikan souvenir kenegaraan oleh SBY untuk beberapa tamu kenegaraan. Namanya juga ikut nongol pada talk show paling kondang sedunia asuhan Oprah Winfrey. Itu karena kopi luwak dianggap kopi aneh, unik dan mahal sedunia. Harganya ada yang menyebutkan hingga mencapai 36 juta rupiah per kilogram. Jauh melebihi harga biji kopi kering di OKU Selatan yang hanya Rp 15.000,00/kg.

Menyela sebentar. Ceritanya saya kecewa bukan main! Ini karena lokasi kopi luwak yang dimuat dalam harian terbesar nasional itu ada di Liwa-Lampung Barat. Berarti saya melewatkan tujuan berharga. Tepat dihari saya kecewa itu, stasiun televisi Trans7 menyiarkan liputan di Lampung Barat. Presenternya terlihat asyik naik perahu diiringi lumba-lumba yang menari-nari di sekitarnya. Dan ini bukan di arena sirkus. Ini nyata. Lumba-lumba tersebut hidup berkoloni di Pantai Teluk Kiluan-Kab. Tenggamus. Masih di dekat Lampung Barat. Belum lagi katanya, Pelabuhan Krui di Lampung Barat sering disinggahi kapal-kapal pesiar besar yang melakukan tour di Samudra Hindia.Omaigaaaaaaaaaaaat, berarti saya benar-benar melewatkan banyak hal berharga di sana.

Yang terakhir, saya tergelitik dengan fenomena kopi luwak. Dengan bahasa yang lebih keren, harga kopi luwak melambung tinggi karena adanya added value. Luwak yang memakan biji kopi itu sesungguhnya hanya melahap kulit buah kopi. Bijinya yang masih utuh dikeluarkan bersama kotorannya, dan uniknya yang dia makan hanyalah buah kopi yang benar-benar tua dan bagus kualitasnya. Ditambah lagi proses pencernaan luwak telah melumuri biji kopi dengan enzim alami yang membuatnya punya nilai lebih. Saya merasakan betapa ujung gigi di rongga mulut tidak terasa asam setelah beberapa sruput kopi luwak ditenggak. Ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Rasa masamnya bahkan seringkali bertahan hingga lambung.

Yang dapat kita pelajari sesungguhnya adalah bahwa added value itu mampu melambungkan nilai jual suatu komoditi. Contoh nyatanya adalah produk-produk bangsa Korea. Tanpa sumber daya alam yang mendukung, produk otomotif seperti Hyundai atau KIA mulai menyaingi pasar Jepang. Belum lagi LG, merek tersebut sekarang menjadi rajanya TV Plasma.

Added value menurut saya telah mengantarkan Korea menjadi negara kaya. Bayangkan, pada tahun 1998 negara tersebut mengalami krisis ekonomi yang sama dengan negara kita tetapi sekarang tentu masyarakat Korea jauh lebih makmur. Ini semua tentang added value. Teknologi adalah kunci mereka mengubah suatu barang sehingga mempunyai added value yang bernilai jual tinggi. Hasilnya, ketika barang-barang itu laku keras dipasaran maka orderan meningkat. Perusahaan manufaktur di sektor ini kemudian mendapat untung besar. Untung inilah yang pastinya juga meluberi warga dan pemerintah Korea. Syahdan, kemakmuran bangsa Korea terangkat.

Coba bandingkan, nilai ekspor negara kita sebagian besar berupa bahan mentah. Sebut saja migas, tambang, karet, sawit, kopi, dll. Kekayaan bumi Indonesia yang tiada tara itu dikuras habis dan dijual dengan harga yang rendah. Wajar, karena semua adalah bahan mentah tanpa added value. Oleh karena itu bangsa ini harusnya belajar mengembangkan teknologi untuk menambah nilai guna suatu produk.

Sebut kita memang sudah berhasil menambah nilai guna kopi. Tapi sayangnya itu dihasilkan oleh teknologi alami ciptaan Yang Kuasa. Maka sekali lagi syukur kepadamu Yaa Tuhan yang membuat kami “menemukan” added value tanpa harus susah-susah mengembangkan teknologinya.

*http://www.seruit.com/a/index.php?option=com_content&view=article&id=1086%3Amakna-siger-lampung&catid=195%3Ablog-2010&Itemid=111

Advertisements

Responses

  1. mas witooooo.. i envy you!
    aku juga mau.. XD
    btw aku link blog mu di blog aku ya mas.. πŸ™‚

    • Dengan senang hati Anti πŸ˜€
      Nanti aku link blogmu juga yaa. Maaf masih baru, ini lagi mikir design yang bagus untuk nyusun link-nya ;p

      • hihi.. sip sip.. senangnya menemukan banyak ipys di blog world. πŸ˜‰

  2. Wah kak, keren…nanti kumpulkan info yang lengkap supaya ga ketinggalan even penting. saya tunggu cerita2nya..*mupeng jelajah nusantara juga πŸ™‚

  3. Ada kesalahan di penyebutan Teluk Kiluan di Lampung Barat….yang benar berada di kabupaten tanggamus…

    • Sdr. Ady,

      Terima kasih. Informasinya sangat berharga. Tulisan di atas sudah saya betulkan sedemikian rupa.

      Salam, Wiwit

  4. Bener banget Wit, kalau kita di Lampung memang sering merasa tak jauh dari rumah, saking banyak-nya orang jawa yang tinggal disana.
    Tks ya Wit, tulisanmu sangat menggugah-ku utk mengeksplorasi Lampung. Tujuh tahun aku jadi menantu-nya orang Lampung cuma uplak-uplek di Tanjung Karang aja πŸ˜€

    • Weee Mbak Wiwit, welcome to myblog πŸ˜€
      Waah baru tahu negara asal Mas Wisnu. Btw Mbak, kalo di kotanya memang Lampung agak bosenin. Beda sama Bengkulu/Palembang yang di kotanya banyak destinasi. Tapi kalo mau dieksplore Lampung punya banyak potensi πŸ™‚
      Ooh yaa, dari perjalanan ini juga aku jadi tahu kalo Mbak Ade Feriyanti (DAA) asalnya dari Manna-Bengkulu. Kemarin aku lewat sana, dan Manna itu sejalur dengan Krui-Lampung Barat.

  5. kak, ni aku kasi kado buat mu..
    http://ceritabee.wordpress.com/2011/02/22/bingkisan-pilihan/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: