Posted by: wiwit prasetyono | June 14, 2011

Kota Buddha Kuno di Muaro Jambi

Muaro Jambi (13/2) - STUPA BATA. Bentuk bangunan khas Buddha di Muaro Jambi ini tidak berbeda dengan kebanyakan stupa lainnya, meskipun terbuat dari batu bata. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Salah satu alasan saya nekat melakukan perjalanan Trans-Sumatera adalah Candi Muaro Jambi. Suatu hari saya melihat cover harian nasional yang menampilkan gambar candi kuno berbahan batu bata. Kabarnya, Indonesia sedang berusaha untuk menjadikannya warisan dunia baru yang diakui UNESCO. Lebih dahsyat lagi adalah, penjelasan seorang kawan di Jambi yang menyatakan bahwa kompleks Percandian Muaro Jambi jauuuh lebih besar dari Borobudur!

Keterangan tersebut ibarat api yang menyulut hasrat saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Borobudur bagi saya merupakan sebuah karya maha dasyat. Meskipun saya sudah berulang kali mengunjunginya, pun tetap menghadirkan kekaguman baru setiap menginjakkan kaki di candi warisan abad ke-8 tersebut. Sepuluh tingkatnya menghadirkan ukiran relief dari kitab suci Buddha yang apabila dibentangkan dapat mencapai 3 km panjangnya. Belum lagi benteng alamnya, Borobudur dikelilingi oleh 6 gunung di sekitarnya. Yang tak kalah menarik, konon konsep borobudur adalah lotus on the lake. Dimana candi berbentuk dasar persegi tersebut ibarat bunga teratai yang mengapung di atas danau purba. Yaa, memang konon katanya ada seluasan perairan mengelilingi kompleks candi. Nah, sekarang bayangkan perasaan saya mendengar orang berbicara bahwa ada karya lain melebihi besarnya Borobudur?

Perjalanan dari Palembang ke Jambi saya tempuh selama lebih dari 12 jam. Berangkat siang hari pukul 13.00, travel Innova yang saya tumpangi tiba di tujuan pada dini hari. Saya tidak sadar ketika mobil telah sampai pada penginapan yang sudah dipesankan oleh kawan. Jalanan kota nampak berkabut. Warna putihnya jelas terlihat pada sekitar jam 2 pagi. Dingin, basah dan sepi! Hadir sekelebat dalam imajimasi saya suasana mistis Sumatera. Rasanya seperti memasuki daerah pedalaman hutan tropis yang apabila ditelusuri makin jauh, semakin asing, semakin takut tetapi juga semakin penasaran.

Dugaan saya tidak meleset, berbeda dengan ibukota provinsi lain di Pulau Sumatera yang umumnya merupakan kota pesisir, suasana Kota Jambi cenderung tenang khas daerah pedalaman. Bagusnya, rimbun pepohonan menghiasi pinggir-pinggir jalan protokol yang membuat suasana teduh dan sedikit lembab. Tidak ada kemacetan, tidak ada gedung-gedung tinggi ataupun mall-mall yang bertaburan di dekat pusat pemerintahan. Satu-satunya kemacetan yang saya temukan hanyalah di depan rumah dinas Gubernur yang merupakan kawasan niaga. Ada pasar tradisional yang tumpah ke jalan, juga sebuah kompleks pertokoan besar dalam satu garis lurus. Di ujung keramaian adalah sebuah simpang yang mengantarkan saya melihat Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera.

Tujuan utama saya adalah Candi Muaro. Berbekal informasi dari Museum, perlu menempuh sekitar 20 km dari simpang yang menurut penduduk sekitar disebut sebagai Ancolnya Jambi. Daerah pinggir Batanghari yang dijadikan sebagai pusat rekreasi.

Saya berjalan sedikit ngebut. Bukan karena harus menempuh 20 km, tetapi karena jalanan menuju Candi Muaro juga sangat sepi. Setelah menyeberang jembatan Batanghari II, pemandangan di kanan dan kiri jalan adalah rawa-rawa. Juga diselingi bentang-bentang luas lahan yang nampaknya dibuka untuk perkebunan. Masih nampak sisa-sisa tonggak kayu yang dibakar, di sela-sela tanaman inti. Sesekali, saya memacu kendaraan cepat-cepat bahkan takut melihat kanan-kiri. Belum lagi kalau saya harus menembus kanopi hutan yang melengkung membentuk terowongan hijau. Itu semua saya lalui, sendirian saja!

Pukul 3 sore setelah perjalanan bermotor selama hampir 1 jam, saya menemukan barisan rumah yang berderet membentuk suatu perkampungan. Lepas satu kampung dibatasi sedikit semak belukar kemudian ada perkampungan lainnya. Setelah beberapa kali melewati kampung demi kampung akhirnya saya melihat gapura besar bertuliskan “Candi Muaro Jambi”.

Muaro Jambi (13/2) - CANDI TINGGI. Satu dari sekian banyak candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi yang sudah direkonstruksi hingga utuh. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari jalan utama saya langsung bisa melihat sebuah bangunan candi di tengah-tengah lapangan hijau luas. Bentuk bangunannya persegi lurus setinggi kurang lebih 10 meter. Bagian bawah bangunan tersebut terdapat ornamen bersusun-susun. Sementara bagian mukanya terdapat hiasan ukir terbuat dari batu andesit. Bila diperhatikan, bangunan utama dikelilingi pagar dari batu bata kuno yang sangat luas. Tidak hanya satu, bahkan nampaknya pagar tersusun berlapis-lapis. Konon katanya diatas bangunan utama ini kemungkinan terdapat bangunan lain yang terbuat dari bahan kayu yang telah hilang entah kemana. Ibaratnya, yang saya ceritakan ini adalah kastil kuno dengan pembagian-pembagian ruangan yang menunjukkan fungsi-fungsi tertentu. Orang sekitar menyebutnya sebagai Candi Gumpung.

Muaro Jambi (13/6) - MENAPO. Runtuhan candi ini awalnya berupa gundukan tanah yang tertutup dedaunan. Beberapa diantaranya menyimpan prasasti, patung serta perhiasan emas.Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Dari bangunan pertama ini, saya diajak oleh pemandu menuju candi lain. Tidak main-main, saking jauhnya kami harus naik motor menuju lokasi candi kedua. Sepanjang jalan, saya dijelaskan bahwa ada beberapa gundukan yang apabila dibersihkan dari sulur dedaunan akan muncul bagunan candi yang utuh. Orang sekitar menyebut gundukan itu “Menapo”. Pada awalnya diketahui hanya ada 7 menapo utama, namun setelah dilakukan foto udara bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di tahun 1985 diketahui ada 40 lebih menapo yang tersebar dalam kawasan seluas 7 kilometer persegi. Tidak menutup kemungkinan ada menapo lain yang belum teridentifikasi.

Bukan hanya candi, di kompleks yang setiap sore atau hari libur rame oleh anak-anak kecil dan remaja itu menghadirkan pula kolam kuno yang disebut sebagai Telago Rajo. Fungsinya kurang lebih sebagai tempat pemandian di masa lampau. Letaknya agak tinggi dan disekitarnya masih terlihat jelas pagar-pagar batu bata yang kemungkinan merupakan tanggul pembatas satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Muaro Jambi (13/6) - SETELAH DIPUGAR. Menapo yang telah berhasil direkonstruksi menjadi candi yang sangat indah. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto

Hadirnya tanggul ini menurut beberapa ahli diperkirakan untuk menahan banjir ke dalam kompleks bangunan. Berdasarkan berita-berita China atau catatan perjalanan masa lampau dikenal sebuah pelabuhan penting di pesisir timur Sumatera bernama Zabag. Kemungkinan besar itu adalah daerah yang saat ini dikenal sebagai Muara Sabak. Menurut perkiraan, orang-orang di masa lampau menuju kota melalui muara Sungai Batanghari. Perahu-perahu mereka masuk ke kota untuk melakukan perdagangan.

Keseluruhan cerita di atas membukakan mata saya tentang betapa besarnya Kompleks Percandian Muaro Jambi. Tidak hanya besar dalam hal ukuran candi yang berhasil direkonstruksi, namun lebih dari itu situs tersebut menghadirkan kompleks yang dulunya bisa jadi merupakan istana. Atau lebih dari itu, bisa jadi merupakan kompleks kota kuno.

Yang lebih menggetarkan bagi saya adalah tentang runtuhnya sebuah peradaban. Kita tidak pernah tahu bahwa kota yang dulunya ramai telah hancur dan berubah menjadi sunyi. Sementara itu di kota yang sekarang kita tinggali bisa jadi sebelumnya adalah sebuah belantara. Belajar dari perubahan, dalam perjalanan tersebut saya menghirup semangat kehidupan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari. Sesuatu yang hari ini bukan siapa-siapa bisa jadi akan menjadi sangat bermakna di masa yang akan datang. Seperti Batanghari, saya percaya hidup akan terus mengalir.

Muaro Jambi (13/2) - SENJA DI BATANGHARI. Mengalir dari Solok-Sumatera Barat dan bermuara di Jambi sepanjang lebih dari 800 km, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Melihat Negeri Sendiri-Wiwitto


Responses

  1. keren mas wito! aku bacanya sambil merinding disko, berasa sepi sunyi nya.. hehe..
    btw ngomong-ngomong soal reruntuhan.. mana nih foto the jabar di tempat seleksi jogja? :D

  2. Bagian akhirnya Mantap dik Wiwit. Btw Solok (Batanghari) itu di Sumbar? Atau mungkin ada daerah dengan nama yang sama di Sumut.

    • Mas Teguh, terima kasih karena sudah mampir dan memberikan revisi. Betul, menurut sumber yg saya dapat, hulu Sungai Batanghari di Danau Di Ateh (Solok-Sumbar).

  3. Wiwit!!!!!! Cerita pengembaraan ke Jambi kamu buat aku terpingin mau mengembara sendirian (walaupun rumahku disitu) ke Muaro Jambi! Lebih dari 10 tahun aku ke Jambi, gak pernah aku tahu ada lokasi yang bagus untuk wisata.

    Great article and photos!

    • Indonesia, Sumatera and Jambi, indeeed has lot of beautiful place to see Ab! Thanks for coming :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,280 other followers

%d bloggers like this: